Kamis, 11 Juni 2026

Cinta itu...

 Cinta itu matahari kepada rerumputan

Ikhlas menyinari dan jujur menghidupi

Cinta itu lautan kepada nelayan

Berikan apapun tak mengharapkan imbalan


Cinta itu udara kepada bumi manusia

Tak pernah berikrar dan tak pernah berbayar

Cinta itu hijau hutan kepada binatang

ikhlas dan rela berkorban, teduh melindungi


Cinta itu akar-akar yang menghujam bumi

Menguatkan, menyatukan dan mengaitkan semuanya

Cinta itu kerbau-kerbau kepada petani

mengabdi dan setia walau dipecut dan didera


Cinta itu air hujan yang basahi bumi

Menyuburkan dan menumbuhkan jutaan arti

Cinta itu kupu-kupu yang memeluk bunga

Saling mengisi, mengasihi, saling melindungi


Cinta itu tak pernah banyak mulut dan kata

Tak terlihat dan selalu berkata-kata dengan rasa

Cinta itu induk singa bersama anaknya

Tak terfikir membunuh dan tak terfikir membuangnya


Cinta itu embun pagi kepada cakrawala

Mendinginkan, membuat indah fajar pagi yang merekah

Cinta itu hati yang ada di tubuh kita

Tak bicara, tak berkata, tapi menggerakkan semuanya

Cinta itu bintang-bintang kepada rembulan

Yang setia menemani, menghias gelapnya malam

Cinta itu lilin kepada nyala api


Rela mengorbankan dirinya untuk berikan sinar cahaya

Minggu, 07 Juni 2026

Kisah lahirnya anak keduaku

 

Karin Raihanun Nuha, nama yang kami berikan setelah perdebatan panjang mencari nama terbaik.

Kisah lahirnya anak keduaku, yang katanya akan lahir setelah Hari Raya Idul Fitri, tanggal 25 Maret 2026, ternyata belum keluar juga. Malah di tanggal itu, masih main-main di pantai, bersenang-senang menikmati keindahan alam dan makan bersama.



Memori Pencarian Kakatua di Flores bagian Barat

Hmmm.... Suasana malam ini... Nostalgia angin tepi pantai

jadi inget waktu tinggal di Tepi pantai Kampung Lenteng, Desa Golomori, Kec. Komodo, Kab. Manggarai Barat, NTT.

Bersama dengan Faizal (IPB) dan Mas Feri (BI), kami menginap di rumah bpk Muhammad bersama istri dan satu anak gadisnya yg baru kelas 6 SD

di sebuah rumah kayu berbentuk panggung, kami benar-benar disambut dengan hangat

Tanpa listrik, tanpa sinyal, tanpa kamar mandi

Benar-benar suasana yang aduhai romantisnya

Empat hari penelitian pertama kami disana

Menelisik jejak 'keka' yang tak kunjung tiba

Mendaki bukit, menerawang langit... 

Siapa tahu, keka lewat dan menyapa

Aarrgghhh rupanya elang laut perut putih yang tiba-tiba bangun kepagian

Hari pertama pun berlalu, kami tiba sore hari dan langsung survey

Hari kedua, bangun lebih pagi...

Mendaki bukit tepi pantai, dan sendiri...

Sesekali menengok kebelakang, takutnya si komodo ikut survey juga

Aaahh ternyata hanya perasaan

Setibanya di puncak... Aduhai, aku merinding, tuan... 

Surga dunia... Aaaarrgghhh ini namanya alam, puncak kenikmatan, pusat kerinduan

Aaah, basi.! Tak ad yang dirindukan.. Percuma.!!

Kembali mengamati, dan terlihat dari kejauhan 2 ekor terbang, warna putih...

Asalnya dari seberang... Wow wow wow...

Ku teropong dengan binokuler, itu kakatua... Iyaaa kakatua...

Hampir aku mau telp, mas feri aku lihat kakatua...

Rupanya, tetap saja aku tak punya sinyal

Yaaa sudahlah...

Catet... Sketsa... Identifikasi... Kordinat... Selesai, turun..!!!

Dan tepi pantai itu, membuatku selalu aduhai romantisnya ketika kebelet eek..

Jian angin pantai tenan... Menusuk-nusuk pori kulit... Adem bikin merinding