Kamis, 13 Juni 2019

HIDDEN PARADISE IN EASTERN SUMBAWA, INDONESIA

Who would have thought that beyond the cliffs to the east of Sumbawa Island there was a dense forest? Overland access that drains a lot of sweat makes this area rarely visited by humans. The sea route was half dead, because it must hit the waves and against the current is so strong. The eastern cliffs of Sumbawa Island are still densely decorated with towering trees. Piles of hexagonal stones in the Cape of Maria, a row of mangroves Ndoko, towering cliffs beautifully decorated waterfalls in Nanga Kala and Rano, that is the privilege of eastern Sumbawa.
The joint research team comprising Flora Fauna, Geology, Disaster Potential and Socio Cultural Expedition in the eastern region of Sumbawa. A total of 21 people made the expedition to use two fishing boats for 4 hours through the Sape Strait. This 4-day study has produced remarkable results. One of them is the discovery of a team of Geologists who discovered the hexagonal stone in Maria Cape. The Disaster Potential Team found a cliff valley that opened into a farm in Nanga Kala. While the socio-cultural team learns the farming and fishermen who live in Nangakala and Pulau Kelapa. For the Flora Fauna team, the eastern part of Sumbawa presents a gallant predatory greeting.
Picture 2. White-bellied Fish-eagle (Haliaeetus leucogaster) (photografer : Jericho)
White-bellied Fish-eagle (Haliaeetus leucogaster), Brahminy Kite (Haliastur indus) dan Short-toed Snake Eagle (Circaetus gallicus) are predatory animals that are found every day. The three species of eagle is very utilize a high place like a cliff or a large tree used to perched and stalking prey. While the food in the form of fish, amphibians, reptiles and small birds (in the language of Bima called keri'i). Strategic location is shown on the cliffs lined from Maria Cape to Rano. This location is directly adjacent to the Sape Strait known as the area of ​​the current vortex and has an abundant level of diversity of fish species.
Picture 2. The Rows of cliffs in Maria Cape (photografer : Nur Sita Hamzati)
The territorial division of these three predators is not very clear. White-bellied Fish-eagleis the largest type of eagle than the Brahminy Kite and Short-toed Snake Eagle. Although it has never been observed all three of them attacked each other, but the White-bellied Fish-eagleseem to be the animals that most menguasasi waters area. Brahminy Kite occasionally flies in the territorial waters, but tends to approach the land and savannahs that lie behind the cliff. While the Short-toed Snake Eagle, with the typical behavior of flying without moving places by flapping the wings steadily over the savanna.
Picture 3. Brahminy Kite (Haliastur indus) (photografer : Nur Sita Hamzati)
The encounter of these three species of eagle began at 08.00 WITA and observed still flying low. This could be a clue that the nesting location is assumed to be close to the location found. Based on information from the community, one of the large mangrove trees located in Ndoko a nest of White-bellied Fish-eagle. Another clue, there are several large trees located on the cliffs of Nanga Kala which is used as a perch location and rest.
Picture 4. Landscape of Eastern Sumbawa (fotografer : Nur Sita Hamzati)
The existence of a natural forest, composed of cliffs, large trees is a habitat suitable for the survival of predators. Various types of large trees found in Nangakala, Ranu, Ndoko and Tanjung Maria are potentially used as a nesting site and perch for the predator. Therefore, the need for forest conservation in eastern Sumbawa. Where this habitat strongly supports the survival of the three types of predators on the eastern horizon of Sumbawa Island.
x

Selasa, 02 April 2019

JOGJA MENDESAK BUTUH KANTONG PARKIR



Libur telah tiba
Akhir tahun merupakan masa liburan rutin yang diawali sebelum Hari Raya Natal hingga Tahun Baru. Pada rentang waktu ini, anak-anak libur sekolah semester ganjil. Biasanya setelah selesai ujian atau setelah pembagian raport ditutup dengan berwisata. Sedangkan bagi orang yang sudah bekerja, rata-rata mengambil cuti pada masa ini. Sehingga bagi mereka yang sudah berkeluarga tentunya memanfaatkan waktu untuk wisata keluarga.
Pada masa liburan ini tentu banyak orang mengincar kota Jogja sebagai tempat berwisata. Hal ini didukung oleh banyaknya pariwisata yang ditawarkan, mulai dari wisata candi sebagai tempat bersejarah, pantai, hingga puncak. Tujuan wisatawan ke Jogja belum lengkap jika tidak berbelanja ke Malioboro, pusat perbelanjaan yang lengkap dan terkenal murahnya. Hingga akhirnya muncul istilah Jogja dengan sejuta kenangan dan wajib datang lagi jika liburan datang.

Wajib belanja di Malioboro
Waktunya para wisatawan berbondong-bondong memasuki Daerah Istimewa Yogyakarta. Bus-bus besar yang mengangkut 60 penumpang berjalan pelan secara berurutan. Tujuan akhir mereka berbelanja di Jalan Malioboro hingga jam sepuluh malam. Lampu penerang pun kini akhirnya penuh dengan bayangan. Inilah pemandangan sepanjang malam di Malioboro di waktu liburan.
Jalan masuk menuju Malioboro penuh dan sangat padat. Ujung bahkan sampai ke ujung lampu merah menyambung. Mulai dari Jalan Kusumanegara, Jalan Sultan Agung, Jalan KH Ahmad Dahlan, tersusun rapat bus besar, mobil, taksi, tanpa ada ruang untuk penyeberang. Mulai dari habis asar, parkir mobil di tepi jalan sudah mulai penuh. Urut dari Parkir bus Pariwisata di ujung timur yaitu di sebelah Bank Indonesia sudah penuh dari siang, lalu di buka tempat parkir baru disebelah barat Bank BNI, juga penuh, dan yang terujung yaitu parkir Ngabean pun penuh. Lalu, bagaimana dengan bus-bus pariwisata yang datangnya kemalaman?
Jika bus-bus pariwisata ini harus memindahkan sisi parkir, dari parkir selatan menuju ke utara pada kondisi lalu lintas yang padat ini, mungkin bisa menghabiskan waktu 1–2 jam. Waktu yang terbuang terlalu banyak, jika dipaksakan, belum lagi kepastian tempat parkirnya. Maka, permasalahan yang terjadi bukan permasalahan jauhnya tempat parkir akan tetapi karena terlalu sempitnya jalan kota untuk dilalui bus pariwisata. Mengingat bahwa jalan kota Jogja, lebarnya hanya cukup untuk berjajar antara bus pariwisata dengan sebuah sepeda motor. Maka, sebaiknya pemerintah kota segera membuat kebijakan untuk kelancaran lalu lintas ini.

Optimalkan keberadaan Trans Jogja
Mengingat kondisi jalan yang kurang memadai untuk bus pariwisata, dalam hal ini Jogja sebenanya sudah mempunyai solusinya. Salah satu alternatif yaitu memerankan Trans Jogja sebagai kendaraan umum yang cukup memadai untuk mengurangi jumlah bus pariwisata masuk ke kota Jogja.
Tempat parkir yang sudah disediakan cukup sebagai tempat parkir mobil, travel, dan Trans Jogja. Sedangkan untuk bus pariwisata seluruhnya parkir di luar kota Jogja, misalnya sepanjang Ring Road dibuatkan kantong parkir untuk bus Pariwisata. Sehigga bus Pariwisata tidak lagi masuk ke kota Jogja. Jika kondisi ini dapat diterapkan, maka Pemerintah Kota Jogja tidak perlu melakukan pelebaran jalan.
Pemerintah kota Jogja sebaiknya bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Perhubungan agar dapat memanfaatkan Trans Jogja sebagai transportasi penghubung untuk mengantarkan wisata keliling kota jogja. Hanya dengan tiket Rp. 3.500,00 wisatawan justru dapat mengelilingi kota Jogja dengan santai dan cepat. Di tambah lagi, kini peran duta pariwisata Jogja juga dapat dilibatkan untuk lebih mengenalkan Jogja kepada masyarakat luas.

Atau Darurat Menambah Kantong Parkir di Kota Jogja?
Namun, jika alternatif pertama tidak mungkin diaplikasikan dalam waktu dekat, maka solusi yang kedua yaitu menambah kantong parkir bus pariwisata di sekitar Malioboro. Penambahan kantong parkir tidak harus dengan membangun, namun cenderung mengefektifkan tempat-tempat yang luas dan cukup untuk bus pariwisata. Kondisi ini tentu harus bekerja sama dengan pihak masyarakat Jogja. Ketertiban tetap menjadi tanggung jawab bersama.
Oleh karena itu, jika alternatif memanfaatkan Trans Jogja dirasa lebih efektif, maka perlu adanya persiapan yang lebih matang dari berbagai pihak khususnya para Duta Wisata Jogja. Namun,  pada masa liburan akhir tahun ini, sepertinya penambahan kantong-kantong parkir untuk bus pariwisata menjadi masalah yang darurat dan harus secepatnya diselesaikan. Sehingga para wisatawan tidak merasa kecewa atas kondisi yang ada.