Jumat, 28 Maret 2025

2025... Mulai bercerita

 

Januari, 2025

...

Februari, 2025

...

Maret, 2025

Kembali, setelah dia bekerja keras, aku mengajaknya ngobrol dan ditengah malam berdebat ringan, ini tentang rencana lebaran yang kurang 3 hari lagi

Aku memang salah, karena mengajaknya ngobrol dikala dia capek, barusaja kerja. Dan memang sudah ku tebak, pasti kutemui jalan buntu, kami berdua sama-sama tidak mau mengalah. Dasarnya kami punya watak keras kepala, semoga anak kami tidak seperti kami.

Eh... Jangan, anak kami juga harus punya watak keras kepala, untuk mempertahankan pendapatnya yang bijak.

Beginilah ceritanya...

Seperti biasa... Jadwal lebaranku biasanya sudah tersusun rapi (sebelum menikah).

4 hari lebaran, sudah runtut mulai dari hari pertama keluargaku, Bani Abdullah Faqih, hari kedua silaturahim ke tempat Simbah Srandakan, Simbah Bantul, dan hari ketiga trah Simbah Hasan Wirangi, lalu hari keempat sekolahan.

Sangat jelas dan terstruktur Jadwal silaturahimnya.

....

Tapi setelah menikah, punya anak. Perlu ditata ulang atau harus disepakati terlebih dahulu.

Karena Malam ini, sedikit ada diskusi singkat yang buntu...

Dimana jarak rumahku dan suamiku, terlihat sangat jauh... jauh sekali... Dia tidak mau lebaran ke rumah ibuku, bahkan mau datang H3 setelah lebaran. Wow... Seakan-akan... Ya jauh banget 3x24 jam (Indonesia-Turki)

Obrolan kami kurang lebih seperti ini

Yang pada intinya hari pertama aku mengajak lebaran pertama ke rumah ibuku. Akan tetapi, Ternyata tidak disetujui. Bahkan... Dia membandingkan aku dengan kedua kakak iparku, yang kedua orangtuanya sudah meninggal semua. Dia bilang, "kakak iparku Yo ORA kepikiran arep Bali." 

Pikirku, lhoh wong tuane wes ORA Ono Kabeh. OPO Sik arep dibaleni ORA Ono. Sedangkan aku, aku iseh duwe wong tuwo, ibuku ku iseh sehat. Wong-wong jarake atusan meter, do Bali mudik dilakoni, demi ketemu wong tuane, silaturahim... Sedangkan aku mung 20 km jarake wektu sakjam ORA nganti, mosok kebangeten Ra Bali.

Terceluklah, yowes aku sesuk ngidul Dewe Karo anakku.

Diapun menjawab, nek Ono opo2 Yo sakkarepmu, ORA ngurus 

Lhah, kok ngono...

Setelah itu, wes buntu... Dia tidur nyenyak untuk melepaskan lelahnya.

Sedangkan aku, semakin menggila dengan pikiranku... Banyak sekali prasangka. Yang bisa menyebabkan loro pikir jebulane...

Aku membayangkan, suatu saat nanti, anakku sudah menikah lalu punya suami. Sedangkan aku atau bapaknya masih sehat, akankah kami diperlakukan yang sama.? Ingatkah dia dengan kami, sebagai orang tuanya, ataukah dia akan mengikuti keputusan suami, yang datang berkunjung setelah 3 hari lebaran?

Padahal jelas, kami sebagai orang tua sudah jelas menanti-nanti kehadirannya.

Sedangkan anak ini begitu sangat kami cintai, dibesarkan dengan sepenuh hati, meski baru 1,5 tahun, tetapi rasanya tiba-tiba kok dia cepat besar, padahal baru saja kemarin dia terlahir.

Aku tak membayangkan jika aku atau bapaknya yang tiada atau kami berdua sudah tiada. Beda alam, tidak ada bayangan. 

Paling dia hanya bisa mengenang, seperti halnya aku yang sudah kehilangan bapak sejak 20 tahun yang lalu. Tidak terlalu terbayangkan, karena sudah ikhlas, bapak tiada sudah begitu lama, hanya doa saja.

Tapi aku masih punya ibu...

Nak, jika kamu membaca pesan ini nanti, ingatlah untuk kembali pada orang tuamu, jika mereka masih ada. Ajaklah suamimu dan anak-anakmu nanti untuk mengunjungi kami, yang pertama kali...

Sekian... Wayahe mapan turu... 

Terima kasih, tulisan ini membuatku lebih lega, daripada sebelumnya...  Dengan menulis, membuatku tidak terlalu kepikiran.

Alhamdulillah, tidak menjadi loro pikir